Mengubah Limbah Benang Polyester dan Sampah Plastik Menjadi Karya: Pemberdayaan Pengrajin Kampoeng Radjoet melalui Teknik Felting Textile
Industri rajut merupakan salah satu pilar ekonomi kreatif yang kuat, namun dibalik produksinya, terdapat tantangan besar berupa sisa kain atau limbah produksi yang terus menumpuk. Menanggapi hal tersebut, tim akademisi hadir ditengah masyarakat Kampoeng Radjoet Bandung, untuk menyelenggarakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Kampoeng Radjoet melalui Pelatihan Pengolahan Limbah Industri Rajut dengan Teknik Felting Textile.”
Inovasi di Tengah Tumpukan Sisa Produksi
Kampoeng Radjoet telah lama dikenal sebagai pusat produktivitas rajut yang luar biasa. Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah produksi, volume limbah kain rajut yang dihasilkan juga semakin besar. Selama ini, sisa-sisa kain tersebut seringkali hanya dibuang atau tidak dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan keterampilan dalam pengolahan limbah tekstil.
Melihat kondisi sarana dan prasarana yang sudah memadai di lokasi, tim pengabdian masyarakat mengidentifikasi bahwa kebutuhan utama para pengrajin saat ini bukanlah alat, melainkan transfer keilmuan. Para pengrajin memerlukan sentuhan inovasi dan teknik baru untuk meningkatkan nilai ekonomi dari bahan sisa tersebut.
Mengenal Teknik Felting Textile
Solusi yang ditawarkan dalam pelatihan ini adalah teknik Structure Textile Non-Woven, khususnya metode felting. Teknik ini memungkinkan sisa-sisa benang polyester dan kain rajut diolah kembali menjadi lembaran tekstil baru tanpa melalui proses tenun atau rajut konvensional.
Melalui pendampingan oleh tenaga pengajar profesional dan akademisi, para pengrajin diajarkan cara:
- Mengklasifikasikan limbah bahan polyester dan limbah plastik berdasarkan jenisnya.
- Menerapkan teknik felting untuk menyatukan serat-serat sisa menjadi struktur kain yang kokoh dan artistik.
- Mendesain produk turunan seperti aksesoris tas, hingga elemen dekorasi rumah.
Lebih dari Sekadar Pelatihan: Membangun Keberlanjutan
Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada penguasaan teknik semata. Tujuan jangka panjang dari abdimas ini adalah menciptakan peluang bisnis berkelanjutan bagi para pengrajin. Dengan menguasai teknik felting, pengrajin Kampoeng Radjoet kini memiliki bekal untuk:
- Diversifikasi Produk: Tidak hanya memproduksi pakaian rajut standar, tetapi juga merambah ke pasar produk upcycling yang bernilai jual tinggi.
- Efisiensi Industri: Mengurangi biaya pembuangan limbah sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru dari “sampah” produksi.
- Dukungan Ekonomi Hijau: Memposisikan Kampoeng Radjoet sebagai kawasan industri yang ramah lingkungan.
Sinergi Akademisi dan Praktisi
Kerjasama berkelanjutan antara akademisi dan industri lokal ini diharapkan menjadi pemantik bagi munculnya inovasi-inovasi produk yang lebih beragam. Para pengrajin terlihat sangat antusias mengikuti setiap tahapan pelatihan, menyadari bahwa ditangan yang kreatif, sepotong limbah bisa menjadi karya seni yang memiliki daya saing di industri.
Dengan adanya keterampilan baru ini, Kampoeng Radjoet siap melangkah lebih jauh bukan hanya sebagai sentra rajut, tetapi sebagai pusat inovasi tekstil yang mandiri dan berkelanjutan.
Mitra Abdimas:
UMKM KAMPOENG RADJOET & MERAJUT ASA KITA
Founder: EKA RAHMAT JAYA
Ketua Tim:
LIANDRA KHANSA UTAMI PUTRI (NIP: 22950031)
Anggota Tim:
GINA SHOBIRO TAKAO (NIP: 22940037)
FARADILLAH NURSARI (NIP: 15880043)
Anggota Mahasiswa:
RANIA KHALID (NIM: 1605220039)
WIDIA AURELIA (NIM: 1605223031)
AINA GINTASARI (NIM: 1605223006)
Narasumber Pelatihan:
CITRA PUSPITASARI (NIP: 14850088)