Pendampingan Teknik Kriya Tekstil Sebagai Penguatan Keterampilan Dasar Untuk Anak Dengan Down Syndrome Dan Orang Tua Di Pik Potads Jawa Barat
Sebagai wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tim Pengabdian Masyarakat (Abdimas) dari Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion, Universitas Telkom, menyelenggarakan program pendampingan intensif bagi Pusat Informasi dan Kegiatan Persatuan Orang Tua Anak Dengan Down Syndrome (PIK POTADS) Jawa Barat. Program bertajuk “Pendampingan Teknik Kriya Tekstil sebagai Penguatan Keterampilan Dasar untuk Anak Down Syndrome dan Orang Tua” ini dilaksanakan di bawah payung Kelompok Keahlian (KK) Aectiva dengan fokus kajian Tradition-based Product dan Community Empowerment.
Langkah ini diambil guna merespons potensi besar yang dimiliki oleh PIK POTADS Jabar. Sejak tahun 2023, organisasi nirlaba yang beralamat di Jl. Nanas No. 42 Kota Bandung ini sebenarnya telah memiliki program unggulan kelas kriya berupa batik shibori. Namun, ketergantungan terhadap pelatih dari luar serta adanya aset hibah mesin jahit yang terbengkalai karena ketiadaan instruktur tetap menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan program.
Melihat peluang tersebut, tim Abdimas Telkom University hadir menawarkan solusi yang bersifat partisipatoris dan berkelanjutan. Sinergi yang dibangun tidak hanya berfokus pada Anak dengan Down Syndrome (ADS), melainkan secara strategis turut melibatkan para orang tua sebagai subjek aktif produksi.
Kolaborasi Dua Kelompok: Kreasi Anak dan Jahitan Orang Tua
Kegiatan pendampingan ini diikuti oleh 8 anak penyandang Down Syndrome dan 8 orang tua secara simultan dalam 4 kali pertemuan intensif. Selama proses praktikum, setiap anak didampingi oleh satu orang mentor atau fasilitator dari mahasiswa dan dosen Telkom University guna memastikan stimulasi motorik halus berjalan optimal.
Pelatihan dibagi menjadi dua fokus utama:
- Kelompok Anak (Kelas Kriya Kreatif): Berfokus pada penguatan motorik halus, fokus, dan ekspresi seni. Jika sebelumnya anak-anak hanya terpaku pada zat pewarna sintetis, dalam program ini mereka diperkenalkan pada eksplorasi teknik kriya yang lebih ramah lingkungan dan variatif, meliputi teknik pewarnaan alam, teknik stencil, teknik stamping, dan teknik ciprat di atas media kain.
- Kelompok Orang Tua (Kelas Vokasi Teknis): Berfokus pada revitalisasi aset mesin jahit yang sempat tidak terpakai. Para orang tua dilatih mengoperasikan alat jahit dasar, mengukur, memotong pola, hingga merakit kain hasil kreasi ciprat dan stamping anak-anak mereka menjadi produk fashion siap jual yang bernilai ekonomi tinggi.
Progresivitas Pertemuan dan Luaran Bernilai Ekonomi
Melalui jadwal yang terstruktur, kolaborasi ibu dan anak ini berhasil menelurkan berbagai produk fungsional. Pada pertemuan pertama, anak-anak mendalami teknik shibori dengan pewarna alam sementara orang tua belajar menjahit dasar. Di pertemuan kedua dan ketiga, kain yang diolah anak-anak dengan teknik ciprat, stencil, dan stamping langsung disulap oleh kelompok orang tua menjadi pakaian jadi berupa Vest (rompi) serta Wrap Skirt (rok lilit). Pertemuan keempat difokuskan pada pemantapan teknik menjahit busana secara mandiri.
Sebagai langkah terminasi agar pengetahuan tidak terputus selepas program berakhir, tim pengabdi Telkom University juga menyerahkan luaran berupa Modul Panduan Visual. Modul ini tersedia dalam bentuk cetak fisik maupun digital berupa video produksi yang diunggah ke kanal YouTube resmi prodi, sehingga dapat diakses kapan saja oleh mitra untuk keperluan pelatihan internal mandiri di masa depan. Selain modul, luaran wajib dari kegiatan abdimas ini juga mencakup pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas karya yang dihasilkan.
Menuju Ekosistem Mandiri
Melalui program jangka panjang yang selaras dengan roadmap pengabdian masyarakat KK Aectiva, kerja sama ini diproyeksikan mampu membangun kemandirian ekonomi yang kokoh bagi PIK POTADS Jabar. Dengan diposisikannya orang tua sebagai co-mentor atau pendamping terlatih, ketergantungan pada instruktur luar dapat dipangkas. Ke depannya, anak-anak down syndrome yang telah mahir diharapkan dapat bertransformasi menjadi mentor bagi adik-adik atau anggota baru yang bergabung dalam komunitas. Melalui selembar kain bermotif warna alam, kolaborasi ini membuktikan bahwa keterbatasan genetika bukanlah penghalang untuk melahirkan karya fashion yang berkelanjutan dan bernilai jual tinggi.
Tim Abdimas:
Sari Yuningsih, Ahda Yunia Sekar Fardhani, Delta Febiranti Nurman, Jeng Oetari, dan Tim Mahasiswa Pengembangan Komunitas Kriya