Bachelor of Craft Textile and Fashion Telkom University

Author: ajengoetarii

Berkebun Permalkultur di Pondok Pesantren Alfu Hasanah

Pesantren menjadi istilah yang tidak asing di telinga kita, ia hadir di tengah-tengah masyarakat dan berkembang pesat dengan membawa semangat pendidikan dan dakwah. Tidak sedikit masyarakat yang mempercayakan putra-putrinya untuk di didik dalam Lembaga tersebut. Potret pesantren kini tidak bisa disamakan dengan tempat menimba ilmu keagamaan, mengkaji kitab kuning dan mencetak para pendakwah saja, tetapi tidak jarang lulusannya mampu bersaing di dunia usaha, maupun politik. Hal tersebut menunjukan kualitas lulusan pesantren tidak kalah dengan Lembaga Pendidikan lainnya yang bersifat formal.  Pondok Pesantren Alfu Hasanah, merupakan salah satu contoh pesantren yang mengintegrasikan antara Pendidikan formal dan keagamaan. Pesantren ini didirikan pada 12 Januari 2016 oleh Prof. Dr. H. Sanusi Uwes, M.Pd. Dalam visinya, pesantren berkeinginan untuk membentuk santri yang berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan siap berkontribusi bagi masyarakat. Dalam menguatkan visinya, pesantren merancang kurikulum mandiri dengan menyeimbangkan antara pendidikan agama, akademik, dan keterampilan (life skills). Adapun salah satu mata pelajaran unggulannya yaitu berkebun. Kegiatan berkebun bagi pesantren dinilai bukan hanya sekedar aktivitas bercocok tanam, tetapi menjadi bagian sarana Pendidikan holistic. Melalui kegiatan berkebun, santri diajarkan untuk mencintai alam, melatih kedisiplinan, kesabaran, dan ketekunan serta dapat menumbuhkan jiwa kemandirian.  Keunggulan pesantren tersebut dapat terhambat karena keterbatasan dalam merencanakan dan pengetahuan teknis dalam mengelola lahan pesantren. Lahan terbuka lebih banyak ditanami tanaman yang beraneka ragam dan belum tertata dengan optimal, padahal dengan konsep pengembangan lahan yang memadai, lahan tersebut dapat tumbuh menjadi lahan produktif dan edukatif bagi para santri dan juga pengelola.  Dalam merespon hal tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat Telkom University memberikan edukasi dan wawasan tentang mendesain lanskap kebun pangan berbasis konsep permakultur. Konsep tersebut meniru sistem ekologi alami yang berkelanjutan, efisien dan produktif. Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi:  1) Zoning system; yaitu pembagian area kebun berdasarkan fungsi dan tingkat aktivitas untuk memudahkan pengelolaan.  2) Sistem Hidrologi dan Irigasi, untuk mengatur aliran air agar efisien, dan mendukung kebutuhan tanaman.  3) Pemilihan tanaman polikultur dan guilds, yang memadukan berbagai jenis tanaman agar saling melengkapi secara ekologis dan produktif. 4) Ruang Interaksi Sosial dan edukasi, yang dimaksudkan sebagai ruang santri saling belajar, berbagi pengetahuan, dan membangin rasa tanggung jawab bersama.  Kegiatan berlangsung bertahap, dan santri mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Diharapkan melalui pengembangan desain yang telah dilaksanakan dapat mendorong kegiatan berkebun yang sebelumnya sudah berjalan menjadi lebih optimal dan berkelanjutan. Dengan konsistensi dan ketekunan, ke depan dari kegiatan berkebun ini dapat menjadi cikal bakal kemandirian pangan di pesantren dan menjadi laboratorium terbuka bagi santri dan masyarakat sekitar. 

By ajengoetarii | pengabdian masyarakat
DETAIL

Pelatihan Membatik untuk Pemula bersama Deutsche Schule Jakarta (DSJ)

Gambar 1. Foto Bersama Dosen dan Mahasiswa Kriya Tekstil dan Mode, Telkom University bersama Guru dan Siswa Deutsche Schule Jakarta dengan karya batik hasil workshop. Sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya Indonesia sekaligus penguatan pendidikan lintas budaya, Telkom University berkolaborasi dengan Deutsche Schule Jakarta (DSJ) menyelenggarakan kegiatan “Pelatihan Membatik untuk Pemula bersama Deutsche Schule Jakarta”. Kegiatan ini memperkenalkan batik tidak hanya sebagai karya seni tekstil, tetapi juga sebagai medium pembelajaran budaya yang hidup dan relevan bagi generasi muda di lingkungan sekolah internasional. Melalui pendekatan partisipatif, siswa DSJ diajak mengenal sejarah dan filosofi batik sebagai warisan budaya dunia yang diakui UNESCO, sekaligus memahami nilai-nilai yang terkandung di balik setiap motif dan proses pembuatannya. Pelatihan ini dirancang sebagai pengalaman belajar langsung, di mana para siswa mempraktikkan teknik dasar membatik, mulai dari menggambar motif, mencanting, hingga proses pewarnaan dan penyelesaian karya. Didampingi oleh tim dosen Telkom University, peserta diberi ruang untuk bereksplorasi dan mengekspresikan ide kreatif mereka. “Kami ingin batik dipahami bukan hanya sebagai produk akhir, tetapi sebagai proses budaya yang sarat makna. Melalui praktik langsung, siswa dapat merasakan nilai kesabaran, ketelitian, dan kreativitas yang menjadi inti dari tradisi batik,” ujar salah satu dosen fasilitator dari Telkom University. Antusiasme peserta terlihat dari keberagaman motif yang dihasilkan, yang memadukan unsur visual tradisional dengan interpretasi personal para siswa. Pihak DSJ menilai kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang kontekstual dan memperkaya pembelajaran seni di sekolah internasional. “Kegiatan ini membuka wawasan siswa kami terhadap budaya Indonesia secara lebih mendalam. Batik menjadi medium yang efektif untuk membangun rasa ingin tahu, apresiasi, dan dialog lintas budaya di lingkungan sekolah,” ungkap perwakilan guru seni DSJ. Gambar 2. Proses workshop batik di ruang kelas Sebagai puncak kegiatan, seluruh karya siswa dipresentasikan dalam sebuah pameran publik yang melibatkan komunitas sekolah, orang tua, dan tamu undangan. Pameran ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga sarana komunikasi budaya antara siswa dan audiens. “Melihat siswa mampu menjelaskan proses dan makna karyanya kepada pengunjung menunjukkan bahwa pembelajaran budaya dapat berlangsung secara inklusif dan menyenangkan,” tambah perwakilan tim pengabdian. Melalui kegiatan ini, Telkom University dan Deutsche Schule Jakarta berharap kolaborasi seni dan pendidikan lintas budaya dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya yang berkelanjutan.

By ajengoetarii | pengabdian masyarakat
DETAIL
Feb
20

PELATIHAN DEKORASI MOTIF DENGAN PENERAPAN TEKNIK STAMPING DI PONDOK PESANTREN SIROJUL HUDA – SOREANG

Pengabdian Masyarakat – Pesantren Sirojul Huda Soreang   Kebutuhan dan perkembang busana Muslim di Indonesia yang sangatlah pesat dan luas baik dikalangan dewasa dan remaja. Hal tersebut terlihat dari berkembangnya trend industri fashion dan demand yang tinggi terhadap trend muslim di pasar Indonesia yang melahirkan local brand. Melihat fenomena tersebut, industri yang berkembang tidak terlepas dari sumber daya manusia yang terlibat dan mendukung proses produksi suatu industri. Maka diperlukan upaya pengembangan kemampuan dan keterampilan dari potensi yang sudah ada untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki, khususnya dalam membangun potensi anak muda Indonesia. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, Prodi Kriya Tekstil dan Fashion melihat adanya potensi pengembangan keahlian kepada beberapa anak muda khususnya para santri dan masyarakat Pesantren Sirojul Huda Parung- Serab, Soreang, Jawa Barat. Dengan berbekal kemampuan menjahit, fasilitas alat jahit berupa mesin jahit, kemampuan menjahit mukena anti bakteri dan pengaplikasian surface design dengan teknik eco printing dan beading pada kerudung di pelatihan sebelumnya, perlu pengembangan keterampilan dari potensi yang sudah ada dalam menciptakan produk dan membuat produk tersebut menjadi nilai jual. Pelatihan ini diharapkan kedepannya para santri dan masyarakat sekitarnya dapat ikut menjadi pelaku industri Busana Muslim Indonesia dan menjadi pelaku wirausaha muda yang mampu meningkatkan ekonomi sekitar. Pelatihan ini akan dilaksanakan pada bulan September 2023 dengan memberikan pengetahuan lanjutan dari abdi masyarakat yang telah dilakukan sebelumnya. Maka dari itu, akan dilaksanakan pelatihan lanjutan yaitu dengan Teknik stamping pada kerudung sesuai dengan trend saat ini. Besar harapan dengan adanya kegiatan ini maka potensi, keterampilan dan pengetahuan kewirausahaan para santri dan masyarakat sekitar pesantren berkembang dan dapat diimplementasikan dalam industri Muslim sehingga mampu meningkatkan perekonomian dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia yang ada di sekitar wilayah pesantren.   Kata kunci: Trend, Keterampilan dan Potensi, Ekonomi, Kewirausahaan.  

DETAIL