PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT DOSEN PRODI KRIYA TEKSTIL & FASHION: PENGOLAHAN LIMBAH PRA-PRODUKSI KONFEKSI KAOS DI KAMPUNG SABLON – KOTA BANDUNG 

Kota Bandung pernah menjadi pusat produksi pakaian yang terkenal terutama mencapai puncaknya pada era menjamurnya distro. Pada awalnya, konfeksi Bandung hanya melayani permintaan lokal. Namun, seiring berkembangnya waktu, konfeksi Bandung mulai mendapat permintaan dari luar kota dan bahkan luar negeri. Hal ini membuat konfeksi di Bandung semakin berkembang dan menjadi pusat produksi pakaian yang terkenal hingga saat ini.

Konfeksi kaos ini tersebar di seluruh penjuru Bandung Raya (Kota Bandung – Kabupaten Bandung – Kabupaten Bandung Barat – Kota Cimahi). Namum berdasarkan pengamatan yang dilakukan, terdapat beberapa area di Bandung yang menjadi sentra konfeksi kaos, salah satunya yaitu daerah Jalan Surapati atau disebut juga Jalan Suci. Pada berbagai konfeksi kaos di Jalan Suci ini ditemukan banyak limbah atau kain sisa produksi yang dihasilkan. Limbah sisa produksi ini dinilai masih bisa diolah lebih lanjut daripada hanya ditumpuk dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Berdasarkan observasi dan wawancara lebih lanjut yang dilakukan ke tempat produksi kaos di Jalan Suci ini, banyak diantaranya yang menjadikan Jalan Suci sebagai tempat showroomnya saja, adapun tempat produksinya kebanyakan berada daerah Muararajeun yang tidak jauh dari Jalan Suci, berjarak sekitar 1.5 – 2 km.

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan mengetahui kondisi perkembangan konfeksi kaos di Jalan Suci, lalu memetakan potensi material sisa produksi yang maish bisa diolah dengan metode upcycle. Metode upcycle digunakan dalam pengolahan limbah konfeksi kaos untuk meningkatkan nilai estetika, ekonomi, dan fungsional dari limbah kaos tersebut.

Pada tahap awal program tim akan melakukan riset awal mengenai ruang lingkup dan kondisi industri konfeksi di jalan Suci ini. Riset akan meliputi kapasitas produksi konfeksi, jumlah pekerja yang terlibat, material apa saja yang digunakan, alat yang digunakan dan juga produk yang dihasilkan. Riset awal tersebut dilakukan supaya program pengolahan limbah yang akan dilakukan menjadi tepat sasaran.

Pada tahap selanjutnya, akan dilakukan eksplorasi pada material limbah kaos sisa produksi yang dihasilkan oleh akademisi di bidang Kriya Tekstil. Eksplorasi ini berdasarkan metode upcycle dimana tujuan dari pengolaan ini yaitu menemukan teknik pengolahan tekstil yang tepat terhadap material kaos sisa produksi. Supaya kain kaos sisa produksi ini yang awalnya bernilai rendah dapat dikembangkan menjadi produk lain yang bernilai tinggi secara estetika, ekonomi dan fungsinya. Berdasarkan tahapan kegiatan di atas berikut adalah hasil kegiatan Pengabdian Masyarakat yang telah dilakukan. Pada kegiatan pertama telah dilakukan observasi yang dan wawancara pada lokasi mitra yaitu industri konfeksi kaos yang berada di Jl. Muararajeun Lama IV No.33, Cihaur Geulis, Kec. Cibeunying Kaler, Kota Bandung. Konfeksi kaos “DnR Production” tersebut terdiri dari 7 orang pegawai. Konfeksi kaos ini dipilih menjadi mitra dikarenakan berdasarkan wawancara, di Kawasan Kampung Sablon Muararajeun ini terdapat sekitar 60 tempat konfeksi. Sehingga walaupun 1 konfeksi memang lingkup usahanya sedikit, tetapi dapat menjadi percontohan untuk selanjutnya dapat dikembangkan ke konfeksi-konfeksi lainnya di Kawasan tersebut.

Produk yang dihasilkan pada konfeksi kaos ini biasanya berupa: kaos, polo shirt, sweater, baju olahraga dan jenis produk fashion lainnya yang terbuat dari kain kaos dan sejenisnya. Sehingga limbah kain yang dihasilkan biasanya berjenis: berbagai jenis kain kaos, katun combed, kain kaos PCV (campuran polyester), kain lacoste (kain untuk polo shirt) dan jenis kain kaos lainnya. Jumlah kain perca yang dihasilkan kurang lebih 30-50 kg per bulan tergantung produksi. Limbah kain kaos yang dihasilkan biasanya dikumpulkan dalam plastik besar atau karung, lalu akan dijual kepada pengepul dengan harga sekitar 50 ribu rupiah dalam 30kg. Kain limbah kaos yang sebagian besar terbuat dari serat katun tersebut juga seringkali digunakan sebagai majun, atau kain potongan kecil-kecil yang digunakan untuk lap atau keperluan kebersihan untuk di rumah tangga atau industri kecil lainnya seperti bengkel dan lain-lain.

Pada kegiatan kedua, dari limbah kain kaos yang dihasilkan oleh konfeksi lalu dilakukan eksplorasi material yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi S1 Kriya Fakultas Industri Kreatif yang bertempat di Lab, Jahit Lantai 1 Gedung Fakultas Industri Kreatif.

Berikut adalah hasil eksperimen material pra-produksi kain kaos yang telah dilakukan dengan teknik patchwork. Potongan-potongan kain kaos dari konfeksi disatukan dengan cara dijahit dengan tetap mempertimbangkan komposisi estetika yang baik.

Berdasarkan kegiatan abdimas yang telah dilakukan, tantangan utama yaitu menemukan teknik pengolahan tekstil yang tepat dan sebaiknya bisa dilakukan oleh pada pelaku konfeksi tersebut. Sehingga limbah kain kaos yang sangat melimpah tersebut dapat diolah dengan optimal. Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan lalu diskusi dan praktek yang dilakukan oleh mitra, teknik yang dimungkinkan untuk dikembangkan oleh para pelaku usaha konfeksi kaos di jalan Suci yaitu teknik surface textile design, terutama teknik patchwork. Dikarenakan teknik patchwork ini hanya memerlukan peralatan jahir sehari-hari yang memang sudah ada di tempat produksi. Teknik patchwork juga pada dasarnya adalah teknik jahit yang sudah dikuasai oleh para pekerja di konfeksi kaos tersebut. Hanya pada teknik patchwork ini diperlukan pelatihan lanjutkan untuk membuat komposisi kain kaos supaya tetap terlihat baik secara estetika. Untuk teknik structure textile design seperti crochet dan juga anyam belum dimungkinkan untuk dikembangkan oleh mitra, dikarenakan teknik tersebut bukan teknik pengolahan tekstil yang dikuasai oleh para pekerja.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Ruas yang wajib ditandai *