Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion Gelar Pelatihan Cap Tekstil Pewarna Alami untuk Anak Usia Dini
Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa pelatihan teknik cap tekstil menggunakan pasta pewarna alami bersama anak-anak Rumah Tahfidz Balita (Rutaba) Al-Fath, Desa Ciptasari, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 4 Desember 2025, sebagai wujud komitmen program studi dalam mengintegrasikan keilmuan kriya tekstil dengan nilai edukasi, keberlanjutan, dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan pengabdian ini dirancang untuk menstimulasi kreativitas dan motorik halus anak usia dini, sekaligus memperkenalkan seni tekstil ramah lingkungan melalui pemanfaatan bahan-bahan alami yang aman. Anak-anak diajak mengenal warna, bentuk, dan tekstur melalui proses cap sederhana pada media kain menggunakan pasta pewarna alami berbasis material alam. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pengenalan konsep seni tekstil dan pewarna alami, dilanjutkan dengan demonstrasi dan pelatihan pembuatan pasta warna oleh tim dosen dan mahasiswa. Selanjutnya anak-anak mengikuti sesi praktik langsung teknik cap dengan pendampingan guru Rutaba Al-Fath serta tim pelaksana. Seluruh rangkaian kegiatan dikemas secara edukatif dan menyenangkan, sehingga anak dapat bereksplorasi bebas sesuai imajinasi masing-masing. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme tinggi dari para peserta. Anak-anak mampu mengikuti setiap tahapan kegiatan dengan baik, mulai dari memilih warna, menggunakan alat cap, hingga menyusun pola sederhana pada kain. Aktivitas ini tidak hanya melatih koordinasi tangan dan mata, tetapi juga menumbuhkan keberanian anak dalam mengekspresikan ide kreatif melalui media tekstil. Dari sisi pendidik, kegiatan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan baru bagi guru Rutaba Al-Fath terkait pemanfaatan pewarna alami sebagai media pembelajaran seni yang aman dan berkelanjutan. Guru memperoleh pengalaman langsung dalam proses pembuatan pasta pewarna alami dan penerapan teknik cap sederhana, yang dapat diadaptasi dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion menegaskan perannya dalam menghadirkan praktik keilmuan yang berdampak langsung bagi masyarakat, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai seni, kreativitas, dan kepedulian lingkungan sejak usia dini. Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam mengembangkan seni kriya tekstil yang inklusif dan ramah lingkungan.
PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT DOSEN PRODI KRIYA TEKSTIL & FASHION: PENGOLAHAN LIMBAH PRA-PRODUKSI KONFEKSI KAOS DI KAMPUNG SABLON – KOTA BANDUNG
Kota Bandung pernah menjadi pusat produksi pakaian yang terkenal terutama mencapai puncaknya pada era menjamurnya distro. Pada awalnya, konfeksi Bandung hanya melayani permintaan lokal. Namun, seiring berkembangnya waktu, konfeksi Bandung mulai mendapat permintaan dari luar kota dan bahkan luar negeri. Hal ini membuat konfeksi di Bandung semakin berkembang dan menjadi pusat produksi pakaian yang terkenal hingga saat ini. Konfeksi kaos ini tersebar di seluruh penjuru Bandung Raya (Kota Bandung – Kabupaten Bandung – Kabupaten Bandung Barat – Kota Cimahi). Namum berdasarkan pengamatan yang dilakukan, terdapat beberapa area di Bandung yang menjadi sentra konfeksi kaos, salah satunya yaitu daerah Jalan Surapati atau disebut juga Jalan Suci. Pada berbagai konfeksi kaos di Jalan Suci ini ditemukan banyak limbah atau kain sisa produksi yang dihasilkan. Limbah sisa produksi ini dinilai masih bisa diolah lebih lanjut daripada hanya ditumpuk dan dibuang ke tempat pembuangan sampah. Berdasarkan observasi dan wawancara lebih lanjut yang dilakukan ke tempat produksi kaos di Jalan Suci ini, banyak diantaranya yang menjadikan Jalan Suci sebagai tempat showroomnya saja, adapun tempat produksinya kebanyakan berada daerah Muararajeun yang tidak jauh dari Jalan Suci, berjarak sekitar 1.5 – 2 km. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan mengetahui kondisi perkembangan konfeksi kaos di Jalan Suci, lalu memetakan potensi material sisa produksi yang maish bisa diolah dengan metode upcycle. Metode upcycle digunakan dalam pengolahan limbah konfeksi kaos untuk meningkatkan nilai estetika, ekonomi, dan fungsional dari limbah kaos tersebut. Pada tahap awal program tim akan melakukan riset awal mengenai ruang lingkup dan kondisi industri konfeksi di jalan Suci ini. Riset akan meliputi kapasitas produksi konfeksi, jumlah pekerja yang terlibat, material apa saja yang digunakan, alat yang digunakan dan juga produk yang dihasilkan. Riset awal tersebut dilakukan supaya program pengolahan limbah yang akan dilakukan menjadi tepat sasaran. Pada tahap selanjutnya, akan dilakukan eksplorasi pada material limbah kaos sisa produksi yang dihasilkan oleh akademisi di bidang Kriya Tekstil. Eksplorasi ini berdasarkan metode upcycle dimana tujuan dari pengolaan ini yaitu menemukan teknik pengolahan tekstil yang tepat terhadap material kaos sisa produksi. Supaya kain kaos sisa produksi ini yang awalnya bernilai rendah dapat dikembangkan menjadi produk lain yang bernilai tinggi secara estetika, ekonomi dan fungsinya. Berdasarkan tahapan kegiatan di atas berikut adalah hasil kegiatan Pengabdian Masyarakat yang telah dilakukan. Pada kegiatan pertama telah dilakukan observasi yang dan wawancara pada lokasi mitra yaitu industri konfeksi kaos yang berada di Jl. Muararajeun Lama IV No.33, Cihaur Geulis, Kec. Cibeunying Kaler, Kota Bandung. Konfeksi kaos “DnR Production” tersebut terdiri dari 7 orang pegawai. Konfeksi kaos ini dipilih menjadi mitra dikarenakan berdasarkan wawancara, di Kawasan Kampung Sablon Muararajeun ini terdapat sekitar 60 tempat konfeksi. Sehingga walaupun 1 konfeksi memang lingkup usahanya sedikit, tetapi dapat menjadi percontohan untuk selanjutnya dapat dikembangkan ke konfeksi-konfeksi lainnya di Kawasan tersebut. Produk yang dihasilkan pada konfeksi kaos ini biasanya berupa: kaos, polo shirt, sweater, baju olahraga dan jenis produk fashion lainnya yang terbuat dari kain kaos dan sejenisnya. Sehingga limbah kain yang dihasilkan biasanya berjenis: berbagai jenis kain kaos, katun combed, kain kaos PCV (campuran polyester), kain lacoste (kain untuk polo shirt) dan jenis kain kaos lainnya. Jumlah kain perca yang dihasilkan kurang lebih 30-50 kg per bulan tergantung produksi. Limbah kain kaos yang dihasilkan biasanya dikumpulkan dalam plastik besar atau karung, lalu akan dijual kepada pengepul dengan harga sekitar 50 ribu rupiah dalam 30kg. Kain limbah kaos yang sebagian besar terbuat dari serat katun tersebut juga seringkali digunakan sebagai majun, atau kain potongan kecil-kecil yang digunakan untuk lap atau keperluan kebersihan untuk di rumah tangga atau industri kecil lainnya seperti bengkel dan lain-lain. Pada kegiatan kedua, dari limbah kain kaos yang dihasilkan oleh konfeksi lalu dilakukan eksplorasi material yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi S1 Kriya Fakultas Industri Kreatif yang bertempat di Lab, Jahit Lantai 1 Gedung Fakultas Industri Kreatif. Berikut adalah hasil eksperimen material pra-produksi kain kaos yang telah dilakukan dengan teknik patchwork. Potongan-potongan kain kaos dari konfeksi disatukan dengan cara dijahit dengan tetap mempertimbangkan komposisi estetika yang baik. Berdasarkan kegiatan abdimas yang telah dilakukan, tantangan utama yaitu menemukan teknik pengolahan tekstil yang tepat dan sebaiknya bisa dilakukan oleh pada pelaku konfeksi tersebut. Sehingga limbah kain kaos yang sangat melimpah tersebut dapat diolah dengan optimal. Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan lalu diskusi dan praktek yang dilakukan oleh mitra, teknik yang dimungkinkan untuk dikembangkan oleh para pelaku usaha konfeksi kaos di jalan Suci yaitu teknik surface textile design, terutama teknik patchwork. Dikarenakan teknik patchwork ini hanya memerlukan peralatan jahir sehari-hari yang memang sudah ada di tempat produksi. Teknik patchwork juga pada dasarnya adalah teknik jahit yang sudah dikuasai oleh para pekerja di konfeksi kaos tersebut. Hanya pada teknik patchwork ini diperlukan pelatihan lanjutkan untuk membuat komposisi kain kaos supaya tetap terlihat baik secara estetika. Untuk teknik structure textile design seperti crochet dan juga anyam belum dimungkinkan untuk dikembangkan oleh mitra, dikarenakan teknik tersebut bukan teknik pengolahan tekstil yang dikuasai oleh para pekerja. https://youtu.be/3Pglct0MyoE
Mengubah Limbah Benang Polyester dan Sampah Plastik Menjadi Karya: Pemberdayaan Pengrajin Kampoeng Radjoet melalui Teknik Felting Textile
Industri rajut merupakan salah satu pilar ekonomi kreatif yang kuat, namun dibalik produksinya, terdapat tantangan besar berupa sisa kain atau limbah produksi yang terus menumpuk. Menanggapi hal tersebut, tim akademisi hadir ditengah masyarakat Kampoeng Radjoet Bandung, untuk menyelenggarakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Kampoeng Radjoet melalui Pelatihan Pengolahan Limbah Industri Rajut dengan Teknik Felting Textile.” Inovasi di Tengah Tumpukan Sisa Produksi Kampoeng Radjoet telah lama dikenal sebagai pusat produktivitas rajut yang luar biasa. Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah produksi, volume limbah kain rajut yang dihasilkan juga semakin besar. Selama ini, sisa-sisa kain tersebut seringkali hanya dibuang atau tidak dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan keterampilan dalam pengolahan limbah tekstil. Melihat kondisi sarana dan prasarana yang sudah memadai di lokasi, tim pengabdian masyarakat mengidentifikasi bahwa kebutuhan utama para pengrajin saat ini bukanlah alat, melainkan transfer keilmuan. Para pengrajin memerlukan sentuhan inovasi dan teknik baru untuk meningkatkan nilai ekonomi dari bahan sisa tersebut. Mengenal Teknik Felting Textile Solusi yang ditawarkan dalam pelatihan ini adalah teknik Structure Textile Non-Woven, khususnya metode felting. Teknik ini memungkinkan sisa-sisa benang polyester dan kain rajut diolah kembali menjadi lembaran tekstil baru tanpa melalui proses tenun atau rajut konvensional. Melalui pendampingan oleh tenaga pengajar profesional dan akademisi, para pengrajin diajarkan cara: Mengklasifikasikan limbah bahan polyester dan limbah plastik berdasarkan jenisnya. Menerapkan teknik felting untuk menyatukan serat-serat sisa menjadi struktur kain yang kokoh dan artistik. Mendesain produk turunan seperti aksesoris tas, hingga elemen dekorasi rumah. Lebih dari Sekadar Pelatihan: Membangun Keberlanjutan Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada penguasaan teknik semata. Tujuan jangka panjang dari abdimas ini adalah menciptakan peluang bisnis berkelanjutan bagi para pengrajin. Dengan menguasai teknik felting, pengrajin Kampoeng Radjoet kini memiliki bekal untuk: Diversifikasi Produk: Tidak hanya memproduksi pakaian rajut standar, tetapi juga merambah ke pasar produk upcycling yang bernilai jual tinggi. Efisiensi Industri: Mengurangi biaya pembuangan limbah sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru dari “sampah” produksi. Dukungan Ekonomi Hijau: Memposisikan Kampoeng Radjoet sebagai kawasan industri yang ramah lingkungan. Sinergi Akademisi dan Praktisi Kerjasama berkelanjutan antara akademisi dan industri lokal ini diharapkan menjadi pemantik bagi munculnya inovasi-inovasi produk yang lebih beragam. Para pengrajin terlihat sangat antusias mengikuti setiap tahapan pelatihan, menyadari bahwa ditangan yang kreatif, sepotong limbah bisa menjadi karya seni yang memiliki daya saing di industri. Dengan adanya keterampilan baru ini, Kampoeng Radjoet siap melangkah lebih jauh bukan hanya sebagai sentra rajut, tetapi sebagai pusat inovasi tekstil yang mandiri dan berkelanjutan. Mitra Abdimas: UMKM KAMPOENG RADJOET & MERAJUT ASA KITA Founder: EKA RAHMAT JAYA Ketua Tim: LIANDRA KHANSA UTAMI PUTRI (NIP: 22950031) Anggota Tim: GINA SHOBIRO TAKAO (NIP: 22940037) FARADILLAH NURSARI (NIP: 15880043) Anggota Mahasiswa: RANIA KHALID (NIM: 1605220039) WIDIA AURELIA (NIM: 1605223031) AINA GINTASARI (NIM: 1605223006) Narasumber Pelatihan:CITRA PUSPITASARI (NIP: 14850088) https://youtu.be/DgftstZsiWo
Inovasi Pengolahan Limbah Benang Rajut di Kampoeng Radjoet Binong Jati : “PELATIHAN PONGOLAHAN SAMPAH FASHION BERUPA EMBELLISHMENT DENGAN PERANCANGAN DIGITAL UNTUK MITRA KAMPOENG RADJOET BINONG METODE STRATEGI CITIZENSHIP EDUCATION”
Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan bagian dari upaya pembinaan terhadap salah satu sentra industri rajut paling terkenal di Kota Bandung, yang dikenal sebagai Kampoeng Radjoet Binong Jati. Kawasan ini tidak hanya berperan sebagai pusat produksi rajut, tetapi juga telah berkembang menjadi ikon kota wisata dan edukasi berbasis industri kreatif. Berdasarkan berbagai sumber, sentra Rajut Binong Jati telah berdiri sejak tahun 1950-an, sementara sumber lain menyebutkan mulai berkembang sejak tahun 1965. Pada tahap awal, kawasan ini hanya melibatkan sekitar sepuluh pengusaha rajut. Seiring berjalannya waktu, industri rajut di Binong Jati mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Puncak perkembangan terjadi pada periode 1997–1998, di mana jumlah pelaku usaha rajut mencapai sekitar 600–700 UMKM, sebagaimana dilaporkan oleh Detik Jabar (2022). Pada masa tersebut, Kampoeng Radjoet Binong Jati menjadi simbol keberhasilan industri rumah tangga berbasis keterampilan lokal yang mampu menopang perekonomian masyarakat setempat. Namun demikian, sejak terjadinya pandemi Covid-19, kondisi industri rajut Binong Jati mengalami penurunan yang cukup signifikan. Penurunan tersebut terlihat pada beberapa aspek, antara lain menurunnya volume produksi, berkurangnya permintaan pasar, serta menyusutnya jumlah pengrajin, khususnya pengrajin skala kecil. Kondisi ini menuntut adanya upaya adaptasi dan inovasi agar industri rajut tetap dapat bertahan dan berkembang. Permasalahan dan Tantangan Pengrajin Dalam menghadapi situasi pascapandemi, sebagian pengrajin berupaya mengikuti perkembangan teknologi dengan beralih menggunakan mesin rajut komputer. Namun, sebagian pengrajin lainnya masih bertahan menggunakan mesin rajut konvensional manual karena keterbatasan modal, keterampilan, dan akses teknologi. Selain tantangan teknologi, aktivitas produksi rajut juga menghasilkan limbah berupa sisa benang dan potongan rajutan yang belum dikelola secara optimal dan cenderung terbuang sebagai sampah. Limbah benang rajut yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan sekaligus menyia-nyiakan sumber daya material yang masih dapat dimanfaatkan. Oleh karena itu, diperlukan strategi pemberdayaan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pengelolaan limbah secara kreatif dan berkelanjutan. Strategi Pemberdayaan melalui Citizenship Education dan Project-Based Learning Berdasarkan kondisi tersebut, program pengabdian kepada masyarakat ini dirancang dengan menerapkan strategi Citizenship Education melalui pendekatan project-based learning. Strategi ini diwujudkan dalam bentuk pelatihan dan pendampingan pengolahan limbah fashion yang dihasilkan oleh pengrajin Rajut Binong Jati. Pendekatan ini tidak hanya memberikan pemahaman teoretis, tetapi juga menekankan praktik langsung yang relevan dengan kebutuhan masyarakat sasaran. Fokus kegiatan meliputi pemanfaatan limbah benang rajut menjadi material baru berupa embellishment serta pengenalan pemanfaatan teknologi digital dalam proses perancangan produk. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, mengembangkan keterampilan teknis, serta memperluas wawasan pengrajin dalam mengolah material alternatif yang bernilai tambah. Teknik Water Soluble Paper dalam Pengolahan Limbah Benang Rajut Salah satu teknik yang diperkenalkan dalam pelatihan ini adalah pemanfaatan water soluble paper sebagai media bantu dalam pengolahan limbah benang rajut. Water soluble paper merupakan jenis material berbasis serat yang dapat larut sepenuhnya ketika terkena air. Dalam konteks pengolahan limbah tekstil, material ini berfungsi sebagai penopang sementara dalam proses pembentukan lembaran tekstil dari limbah benang. Proses pengolahan dimulai dengan menyusun dan menata limbah benang rajut di atas water soluble paper sesuai dengan pola atau komposisi yang diinginkan. Benang-benang tersebut kemudian dijahit atau diikat agar membentuk struktur yang menyatu. Setelah proses penjahitan selesai, lembaran tersebut direndam atau disiram dengan air hingga water soluble paper larut sepenuhnya, menyisakan struktur benang yang telah menyatu menjadi lembaran tekstil baru. Teknik ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain mudah dipelajari, tidak memerlukan peralatan kompleks, serta cocok diterapkan oleh pengrajin rumahan. Selain itu, teknik water soluble paper memungkinkan eksplorasi tekstur, warna, dan bentuk yang beragam, sehingga hasil olahan limbah dapat diaplikasikan sebagai embellishment pada berbagai produk rajut maupun produk fesyen lainnya. Peran Akademisi dan Keberlanjutan Program Pelatihan dan pendampingan dalam program ini melibatkan tenaga profesional dari kalangan akademisi untuk memastikan proses transfer pengetahuan dan keterampilan dapat berjalan secara optimal. Peran akademisi tidak hanya sebagai fasilitator pelatihan, tetapi juga sebagai pendamping dalam proses pengembangan ide, eksplorasi material, serta evaluasi hasil karya pengrajin. Melalui program ini diharapkan para pengrajin Rajut Binong Jati mampu meningkatkan kapasitas diri, berkreasi secara aktif dan inovatif, serta mengembangkan usaha secara mandiri maupun berkelompok. Dengan demikian, pengolahan limbah benang rajut tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan dampak lingkungan, tetapi juga menjadi peluang pengembangan produk kreatif yang mendukung keberlanjutan industri rajut di Kampoeng Radjoet Binong Jati. https://youtu.be/Skw5SXt-66U Mitra Abdimas: UMKM KAMPOENG RADJOET & MERAJUT ASA KITA Founder: Eka Rahmat Jaya Ketua Tim: MARISSA CORY AGUSTINA (NIP: 20860018) Anggota Tim: SHELLA WARDHANI PUTRI (NIP: 24990020)RUNIK MACHFIROH (NIP: 13870042) Anggota Mahasiswa: RACHEL OKTAPIANY PANJAITAN (NIM: 1605223043)EUNIKE EMMANUELLE PUTRI DAVID (NIM: 1605223099)MONIKA AWISTADINI (NIM: 1605223005)
PENINGKATAN KETERAMPILAN MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM LOKAL MELALUI TEKNIK ECO-PRINT DAN PEWARNA ALAM
Program peningkatan keterampilan masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya alam lokal melalui teknik eco-print dan pewarnaan alami merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat Universitas Telkom yang bertujuan untuk mengatasi kendala utama yang dihadapi oleh Desa Baros, yaitu kurangnya partisipasi masyarakat dalam pelestarian budaya lokal dan keterbatasan dalam mengelola potensi sumber daya alam. Meskipun Desa Baros diakui sebagai salah satu Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan memiliki kekayaan alam serta budaya yang melimpah, ada kebutuhan mendesak untuk menjaga identitas desa dan mendorong partisipasi aktif masyarakat. Pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pelatihan in difokuskan pada pemanfaatan sumber daya alam lokal, seperti daun jati, bunga kembang sepatu, dan buah pokeweed, yang memiliki pigmen warna untuk diolah menjadi pewarna alami. Melalui kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, program ini menawarkan solusi berupa pelatihan kreatif pembuatan eco-print menggunakan pewarna alami. Teknik eco-print jenis pounding dipilih karena sederhana, mudah diadaptasi, dan hasilnya langsung terlihat, menjadikannya media yang ideal untuk memperkenalkan teknik baru ini kepada masyarakat. Pendekatan yang digunakan pada kegiatan pelatihan ini adalah participatory learning and action, dimana masyarakat lokal akan menjadi aktor utama dalam proses pembuatan karya, sementara tim akademisi dari Universitas Telkom akan berperan sebagai fasilitator dan pembimbing. Mitra kolaborator kegiatan abdimas adalah komunitas Bebenah Lemah Cai, yang merupakan kelompok pemuda Desa Baros yang selama ini berperan sebagai penjembatan masyarakat Desa Baros dengan berbagai stakeholder eksternal. Kali ini Bebenah Lemah Cai melibatkan elemen masyarakat Desa Baros yang berasal dari kelompok PKK, Karang Taruna, dan pelaku UMKM Baros untuk berpartisipasi dalam pelatihan. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan pada tanggal 18 Desember 2025 ini diselenggarakan di Ruang Sesama, Desa Baros, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Ruang Sesama merupakan salah satu ruang publik di Desa Baros yang seringkali digunakan untuk berkegiatan oleh beragam komunitas yang berasal dari dalam ataupun luar Desa Baros. Kali ini Ruang Sesama mendukung pelaksanaan kegiatan abdimas dengan memberikan akses beberapa fasilitas yang dimilikinya seperti ruang utama coffeeshop dan juga amphitheater. Program kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menambah wawasan dan keterampilan masyarakat dalam memproduksi pewarna alami sendiri dari sumber daya lokal, serta diharapkan kedepan dapat menciptakan media, peluang, dan keterampilan baru bagi Desa Baros sebagai desa wisata. https://youtu.be/G8GQe8TLXis Tim Pengabdian Masyarakat1. M. Sigit Ramadhan, M.Sn.2. Jeng Oetari, M.Ds.3. Delta Febiranti Nurman, S.Psi.4. Puti Mahsya Raniah5. Ayshava Azzahra6. Hana Muthia Nurhasanah
Pelatihan Pengembangan Merchandise Komunitas dengan Penerapan Teknik Marbling
Masyarakat Sasar: Komunitas Rumah Pelangi Indonesia, Baleendah, Jawa Barat Rumah Pelangi Indonesia adalah komunitas non-profit yang berlokasi di Kampung Sindangsari RW 15, Manggahang, Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Komunitas ini berfokus pada optimalisasi tumbuh kembang anak-anak, dalam konteks pendidikan yang menarik dan interaktif. Anak-anak yang menjadi peserta didik komunitas adalah anak-anak yang berasal dari daerah setempat yang merupakan keluarga pra-sejahtera berusia 6 hingga 10 tahun. Komunitas Rumah Pelangi Indonesia juga memiliki visi untuk mencintai budaya lokal melalui seni dan berinteraksi positif dengan lingkungan sekitar. Sebagai komunitas non-profit, salah satu tantangan terberat komunitas Rumah Pelangi Indonesia adalah menyediakan pendanaan berkelanjutan untuk menunjang berbagai aktivitas komunitas. Pada awal tahun 2024, komunitas Rumah Pelangi Indonesia mulai menyiapkan unit bisnis, agar dapat menunjang pendanaan komunitas secara lebih optimal. Salah satu program yang dirintis oleh unit bisnis komunitas ini adalah pembuatan produk kreatif untuk merchandise komunitas. Merchandise ini diharapkan dapat mendukung aktivitas promosi, memperkuat citra positif, merepresentasikan budaya yang dimiliki komunitas, serta menjadi strategi untuk menarik perhatian pembeli. Melalui pengabdian masyarakat ini, tim pengabdian masyarakat Telkom University akan memberikan pendampingan kepada komunitas terkait perancangan merchandise komunitas sekaligus melatih teknik kriya baru yang menarik, yaitu teknik marbling yang mudah diaplikasikan oleh anak-anak. Sehingga produk merchandise yang dihasilkan dapat lebih variatif secara desain dari produk merchandise sebelumnya dan menambah nilai jual serta berdampak pada unit bisnis komunitas secara lebih optimal. Dalam pelaksanaan pendampingan ini, tim pengabdian masyarakat Telkom University menerapkan prinsip design thinking, yaitu Empathize (Empati), Define (Definisi), Ideate (Ideasi), Prototype (Prototipe), dan Test (Pengujian). Pengenalan materi pada anggota komunitas Rumah Pelangi Indonesia dilakukan dengan berbagai cara kreatif salah satunya melalui games. Sehingga anak-anak dapat lebih memahami dengan baik dan lebih rileks saat melaksanan workshop. Workshop pembuatan merchandise kreatif dengan teknik marbling pun dinilai cukup baik karena selain memberikan keterampilan baru bagi anak-anak, melatih kemampuan motorik halus, juga teknik yang dipraktekkan dapat menghasilkan beragam motif baru. Pada kegiatan pembuatan marbling, seluruh anggota komunitas Rumah Pelangi Indonesia mampu menyelesaikan karya secara baik, dengan pendampingan dari tim pengabdian masyarakat Telkom University dalam pengerjaannya. Kegiatan sejenis ini berpeluang untuk dilanjutkan, mengingat perkembangan unit bisnis dan program-program komunitas Rumah Pelangi Indonesia dapat semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Kata kunci: Merchandise, komunitas, teknik marbling https://youtu.be/VBMbs0ZK9uw Terima kasih kepada : Rumah Pelangi Indonesia ASEP SUHENDAR Instagram: @rumahpelangiindonesiaofficial Tim Pelaksana RIMA FEBRIANI (NIP: 20880014) Anggota Tim Dosen TIARA LARISSA (NIP: 23950014) WIDIA NUR UTAMI BASTAMAN (NIP: 14880077) Anggota Mahasiswa AUREA KALIFA BUANA (NIM: 1605223017) AZIZAH SAWALIAH MASLUH (NIM: 1605223082) SYEBIA ZAHRA ALIFIA (NIM: 1605223023)
Pendampingan Pengenalan Literasi Sampah dan Pembuatan Kantong Belanja RamahLingkungan Sebagai Upaya Tanggap Isu Lingkungan Sekitar
Baleendah, Jawa Barat – Sampah plastik masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang mendesak, terutama di wilayah perkotaan seperti Kota Bandung dan sekitarnya. Di tengah tantangan ini, Komunitas Rumah Pelangi Indonesia hadir dengan sebuah inisiatif edukatif yang menyasar generasi muda, khususnya anak-anak usia dini, untuk membentuk kesadaran lingkungan sejak awal. Melalui program pengabdian masyarakat yang digagas di Baleendah, Jawa Barat, komunitas ini menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Pendampingan Pengenalan Literasi Sampah dan Pembuatan Kantong Belanja Ramah Lingkungan” sebagai bentuk tanggapan terhadap isu lingkungan sekitar. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman anak-anak mengenai literasi sampah, serta memperkenalkan mereka pada keterampilan praktis dalam mengolah limbah menjadi barang yang bermanfaat dan bernilai pakai. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah learning by doing, yaitu metode pembelajaran yang melibatkan pengalaman langsung. Anak-anak diajak untuk mengikuti workshop interaktif membuat kantong belanja ramah lingkungan menggunakan teknik tie dye, yang memungkinkan mereka mengekspresikan kreativitas sambil mempelajari konsep daur ulang. Salah satu tujuan utama dari kegiatan ini adalah membentuk pola pikir baru di kalangan anak-anak terkait pengelolaan sampah. Literasi sampah diperkenalkan tidak sekadar sebagai pengetahuan tentang membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga tentang bagaimana sampah dapat dipilah, dimanfaatkan kembali, bahkan diubah menjadi produk yang berguna. Dengan teknik tie dye, anak-anak belajar bahwa bahan sisa seperti kain bekas bisa diubah menjadi kantong belanja estetik dan fungsional, sekaligus ramah lingkungan. Teknik tie dye dipilih karena mudah dipahami, menarik secara visual, dan dapat menghasilkan motif unik yang membuat anak-anak merasa bangga dengan hasil karya mereka. Hal ini mendorong munculnya rasa memiliki (sense of belonging) terhadap produk buatan tangan mereka sendiri, yang pada akhirnya memperkuat nilai-nilai tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan. Di tengah meningkatnya penggunaan plastik, terutama kantong kresek sekali pakai, upaya-upaya kecil namun berkelanjutan seperti ini memiliki dampak jangka panjang. Workshop ini tidak hanya memberikan solusi konkret terhadap permasalahan sampah plastik, tetapi juga mendorong pemikiran kritis anak-anak dalam mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan. Para peserta juga diajak untuk berdiskusi, berbagi ide, dan bereksperimen dengan warna serta pola dalam proses pembuatan kantong belanja mereka. Melalui kegiatan ini, Komunitas Rumah Pelangi Indonesia ingin menanamkan nilai bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas orang dewasa atau pemerintah, tetapi dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan anak-anak di lingkungan terdekat mereka. Program ini diharapkan tidak hanya memberi dampak jangka pendek dalam bentuk produk kreatif, tetapi juga menjadi titik awal perubahan pola pikir anak-anak terhadap isu lingkungan. Ketika anak-anak memiliki kesadaran dan pengetahuan sejak dini, mereka akan tumbuh menjadi individu yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Selain itu, keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi komunitas-komunitas lain untuk mengadopsi pendekatan serupa: edukatif, partisipatif, dan menyenangkan. Dukungan terhadap program pengurangan sampah plastik bisa dimulai dari rumah, sekolah, dan komunitas kecil, dengan mengedepankan nilai keberlanjutan dan kreativitas lokal. https://youtu.be/a1PhZqUhPAA Terima kasih kepada : Rumah Pelangi Indonesia ASEP SUHENDAR Tim Pelaksana RIMA FEBRIANI (NIP: 20880014) Anggota Tim Dosen TIARA LARISSA (NIP: 23950014) WIDIA NUR UTAMI BASTAMAN (NIP: 14880077) Anggota Mahasiswa AUREA KALIFA BUANA (NIM: 1605223017) AZIZAH SAWALIAH MASLUH (NIM: 1605223082) SYEBIA ZAHRA ALIFIA (NIM: 1605223023)
Program Keterampilan Dekorasi Motif Menggunakan Embellishment Bagi murid Pondok Pesantren Binaan IFI
Berkembangnya industri Muslim Indonesia yang meliputi kualitas, kuantitas, inovasi bisnis, teknologi, maupun trend terkini berupa fashion busana muslim sangatlah pesat dan luas. Hal tersebut terlihat dari berkembangnya trend fashion dan industry khususnya busana Muslim lahir dari local brand Indonesia. Melihat fenomena tersebut industri yang berkembang tidak terlepas dari sumber daya manusia yang terlibat dan mendukung proses produksi suatu industri. Maka diperlukan upaya pengembangan wawasan dan kemampuan ketrampilan sumber daya manusianya sehingga meningkatkan kompetensi yang dimiliki, khususnya membangun potensi anak muda Indonesia. Islamic Fashion Institute merupakan sekolah mode yang berfokuskan pada busana Modest Wear. IFI memiliki siswa binaan dari beberapa sokolah pondok pesantren di bandung. Berdasarkan kondisi ini menjadi peluang untuk membantu program IFI dalam memberikan keterampilan bagi siswa binaan. Keterampilan yang sebelumnya sudah siswa binaan miliki diantaranya: dalam pembuatam pola, dan jahit. Dengan berbekal keterampilan tersebut maka dibutuhkan peningkatan kemampuan lainnya diantara pelatihan keterampilan dekorasi motif menggunakan embellishment. Pelatihan ini diharapkan kedepannya para santri dan masyarakat sekitarnya dapat ikut menjadi pelaku industry fashion. Pelatihan ini akan dilaksanakan pada bulan januari 2025 dengan memberikan pengetahuan keterampilan berupa wawasan teknik elemen dan material dekorasi pada produk. Besar harapan dengan adanya kegiatan ini potensi, keterampilan dan pengetahuan para santri dapat berkembag dan dapat diimplementasikan dalam industri busana modest. Kedepannya diharapkan mendapat pekerjaan yang layak serta peningkatan ekonomi. https://www.youtube.com/watch?v=LOGDo7fexqc&t=36s
Sharing Knowledge; Workshop Pengolahan Bahan Sisa Kain Perca Denim dengan Teknik Sashiko
Dalam upaya mendukung gerakan keberlanjutan di industri fashion, diadakan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk “Sharing Knowledge; Workshop Pengolahan Bahan Sisa Kain Perca Denim dengan Teknik Sashiko”. Kegiatan workshop ini bertujuan untuk mengolah dan mengeksplorasi kain perca denim pada tote bag jeans menggunakan teknik sashiko, sebuah teknik jahit tradisional Jepang yang dikenal karena detail dan ketahanannya. Mengusung tema sustainable, workshop ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam kepada masyarakat tentang pentingnya upcycling dan keberlanjutan dalam industri fashion, dengan fokus pada pemanfaatan kain perca denim dan pengembangan ilmu pengolahan surface textile design menggunakan teknik Sashiko. Pelaksanaan kegiatan abdimas dilakukan pada hari Sabtu, 5 Oktober 2024 dengan memanfaatkan salah satu ruang serba guna dan area semi outdoor dari Musat Space. Area ruang serba guna memiliki fasilitas meja dan kursi yang dapat digunakan oleh peserta dengan nyaman selama kegiatan berlangsung. Terlebih pada sesi workshop fasilitas ini akan membantu para peserta dalam proses memotong dan menjahit kain perca yang akan diproses. Kegiatan abdimas dibuka dengan sambutan dari pihak Musat Space yang diwakili oleh Muhammad Fikri Fadhil selaku Manager Musat Space. Terdapat dua tahapan yang dilakukan pada pelaksanaan kegiatan inti abdimas ini, yaitu 1. Kuliah Umum Pada sesi kuliah umum ini para peserta diberikan pengetahuan umum mengenai konsep Upcycling dalam pengolahan sisa limbah tekstil menjadi material yang dapat dimanfaatkan kembali dalam pembuatan produk baru. Dalam sesi kuliah umum ini juga para peserta diberi pengetahuan dasar mengenai teknik sashiko dan sticthing yang kemudian akan diaplikasikan dalam pengolahan kembali sisa material denim untuk menjadi elemen dekoratif pada produk aksesoris fashion. 2. Pelatihan Dalam sesi pelatihan para peserta diberikan pengetahuan teknis dasar mengenai pengaplikasian teknik sashiko dan sticthing menggunakan material denim sebagai elemen dekoratif pada produk aksesoris fashion berupa totebag. Pengetahuan mengenai alat bahan dan pemahaman metode teknis disampaikan pada sesi ini sebagai harapan dapat menjadi pengetahuan tambahan yang dapat dilakukan secara mandiri di kemudian hari. Tahap pertama pada sesi pelatihan ini masyarakat sasar diberikan materi mengenai pengenalan alat dan bahan yang digunakan dalam teknik sashiko dan sticthing oleh tim pelaksana abdimas. Beberapa alat utama yang digunakan seperti jarum dan benang dibahas secara spesifik terutama dari segi ragam jenis sesuai dengan kebutuhan pengaplikasiannya. Selain itu masyarakat dikenalkan juga dengan beberapa pola atau motif dalam teknik sashiko yang khas sehingga dapat dijadikan referensi atau inspirasi pada kegiatan praktik yang dilakukan. Selanjutnya tahap kedua pada sesi pelatihan, masyarakat sasar diberikan tutorial mengaplikasikan teknik sashiko dan stitching pada material denim mulai dari tahap persiapan proses awal pembuatan pola, pemotongan material, sampai dengan penjahitan. Dikarenakan teknik sashiko dan stitching ini menggunakan benang dan jarum secara umum, sebagian besar peserta tidak mengalami kesulitan yang cukup berarti. Hanya saja teknik sashiko ini memiliki pola atau motif yang khas, sehingga peserta perlu mengikuti jalur penjahitan benang sesuai dengan pola yang telah dibuat sketsa sebelumnya. https://youtu.be/b5beHZQv-Ns?si=18ATJQHfkXvDj5Ty Tim abdimas: Sigit Ramadhan, M.Sn. Ahda Yunia Sekar F., M.Sn. Gina Shobiro Takao, M.Ds. Nabila Audina Aleyda Nooraisyah Rahman Kheisha Alea Shakila
Pelatihan Perancangan Busana Ramah Lingkungan Dengan Penerapan Surface Textile Bagi Griya Harapan Difabel (GHD), Kota Cimahi, Bandung
Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang ditemui seseorang dengan kekurangan dalam hal fisik, mental, psikologi dan lainnya yang umumnya di istilahkan dengan difabel atau disabilitas. Tidak jarang orang-orang tersebut mengalami perlakuan serta stigma yang negatif sebagai bagian dari masyarakat. Padahal mereka memiliki semangat dan motivasi yang besar untuk berdaya dan dapat hidup secara mandiri di tengah-tengah masyarakat. Seperti halnya teman-teman yang berada di Griya Harapan Difabel (GHD), dimana tempat tersebut merupakan bagian dari Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Dinas Sosial Jawa Barat; yang memberikan suatu pelayanan rehabilitas sosial kepada penyandang disabilitas.Terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh para penyandang disabilitas ini, seperti menjahit, membatik, mural dan lain sebagainya. Saat ini pengembangan keterampilan khususnya menjahit untuk kelompok disabilitas ini sedang dikembangkan, dan membutuhkan sumber daya manusia untuk mengembangkan produk yang dapat diterapkan kepada para disabilitas. Hal tersebut merupakan peluang bagi kegiatan pengabdian masyarakat di Universitas Telkom, khususnya Program Studi Kriya di Fakultas Industri Kreatif (FIK) untuk mengembangkan dan menerapkan keilmuan yang berupa keterampilan dalam pembuatan produk pakaian sebagai bekal bagi para disabilitas untuk mandiri dan lebih berdaya. Untuk itu dalam kesempatan ini kegiatan pengabdian masyarakat akan memberikan pelatihan pembuatan busana ramah lingkungan dengan elemen dekoratif surface textile. Dengan adanya pelatihan keterampilan ini, diharapkan dapat memberikan dasar pengetahuan serta keterampilan dalam pembuatan produk busana yang memberikan nilai estetik dan juga nilai jual bila akan dikembangkan di masa yang akan datang. Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan salah satu binaan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat yang terletak di kota Cimahi; yaitu berada di jl. Jend. H. Amir Machmud no. 331, Kec. Cimahi Utara, Cibabat. Tempat ini bernama Griya Harapan Difabel (GHD), yang melayani rehabilitas sosial kepada penyandang disabilitas. Secara umum GHD terbuka aksesnya untuk para penyandang disabilitas secara percuma. Sampai saat ini penyandang disabilitas yang tergabung terdiri dari berbagai disabilitas, seperti netra, rungu wicara, tubuh, dan mental. Pelayanan yang diberikan bagi para disabilitas tersebut meliputi bimbingan sosial, mental, fisik, keterampilan dan rekreatif. Dalam hal pelayanan keterampilan, saat ini telah dikembangkan beberapa keterampilan seperti salah satunya adalah keterampilan menjahit. Keterampilan menjahit, dalam program pelayanan di GHD masih dalam tahap pemberian pengetahuan mengenai Teknik menggambar busana/ mendesain, pengenalan alat menjahit secara teoritis dan akan mulai untuk praktek mengoperasikan mesin jahit. Pada wawancara dengan ketua GHD, ibu Andina Rahayu, menyampaikan bahwa pada saat ini diperlukan pendampingan keterampilan oleh professional atau para akademisi yang ingin turut serta mengembangkan potensi disabilitas, dalam hal pengembangan produk busana, sehingga ke depannya para disabilitas ini mampu mandiri dan berdaya di tengah masyarakat. Untuk itu peluang Kerjasama dalam hal kegiatan pengabdian masyarakat ini terbuka lebar, dan memungkinkan bagi kami di prodi Kriya untuk mengembangkan program keterampilan dalam pembuatan produk busana ramah lingkungan dengan dekorasi surface textile. Busana ramah lingkungan saat ini merupakan Upaya dalam perancangan busana dengan memperhatikan dampak terhadap lingkungan serta aspek sosial, untuk memaksimalkan kain untuk mengurangi limbah. Metode mengurangi limbah ini dapat dilakukan dengan cara penyusunan pola. Untuk mengembangkan kemampuan Masyarakat sasar GHD dalam program kelas jahit pelatihan ini memberikan wawasan berupa teknik dekorasi pada busana. Yang tujuannya siswa dapat menggali potensi kreatifitas dalam menciptakan objek dekorasi surface textile untuk mempercantik, menambah nilai estetis secara sederhana diantaranya dengan teknik sulam.
PEMBERDAYAAN PENYANDANG DISABILITAS DALAM MEMBUAT PRODUK SOFT AKSESORIS MELALUI PEMANFAATAN KAIN PERCA – Skema UNGGULAN A 2024/1
Pengabdian Masyarakat Program Studi Kriya bekerjasama dengan Unit Pelaksana Teknik Dinas (UPTD) Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (PPSGHD) merupakan unit pelaksana teknis di bidang rehabilitasi dan pelayanan sosial dari Dinas Sosial Jawa Barat, yang berlokasi di jalan Jend. H. Amir Machmud No 31, Cibabat, Kota Cimahi, Jawa Barat, bertujuan untuk mengembangkan keterampilan handycraft bagi penyandang disabilitas di Unit Pelaksana Teknik Dinas (UPTD) Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel. Melalui pelatihan berbasis teknik tekstil, khususnya teknik embroidery, berupaya mengembangkan kreatifitas serta pengetahuan dan meningkatkan kemandirian serta potensi ekonomi klien dengan menghasilkan produk soft aksesoris menggunakan kain batik dan kain perca. Selain itu adanya kebutuhan dalam strategi pengembangan usaha dalam keterampilan handycraft, strategi peningkatan dalam penjualan brand berupa pembuatan produk menggunakan kain batik, serta strategi peningkatan sumber daya manusia melalui pemberdayaan disabilitas melalui pelatihan. Salah satu sasaran pada bimbingan keterampilan unggulan yaitu handycraft. Melalui pemanfaatan kain perca menjadi produk soft aksesoris berpotensi untuk dikembangkan dan dibuat oleh penyandang disabilitas karena mudah dikerjakan dan dapat menggunakan peralatan sederhana yang ramah dengan penyandang disabilitas. Teknik dalam pembuatan aksesoris ini menggunakan teknik tekstil berupa teknik embroidery atau teknik menyulam. Metode yang digunakan dalam pembuatan produk berupa pemberian teori atau pengetahuan terkait teknik dan juga praktek secara langsung dalam pembuatan kerajinan, baik dari segi persiapan, melalukan transfer pengetahuan dan pemahaman teknik, lalu melakukan praktek secara langsung. Praktek tersebut mencakup persiapan alat dan bahan, pembuatan produk menggunakan teknik embroidery, dan penyelesaian akhir produk. Melalui pemberdayaan penyandang disabilitas dalam membuat produk soft aksesoris melalui pemanfaatan kain batik dan kain perca, dengan kemampuan yang telah dipelajari siswa, maka pengembangan keterampilan diarahkan pada pengembangan keterampilan teknik tekstil berupa teknik embroidery, dimana tidak membutuhkan alat khusus dan keterampilan khusus dalam pembuatannya, singga teknik ini mudah diikuti dan ramah bagi penyandang disabilitas dan mudah untuk diikuti bagi siswa kelas handycraft. https://youtu.be/8d-3OvKGNmw Pengabdian Masyarakat Program Studi Kriya bersama Dinas Sosial Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (PPSGHD) melalui “Pemberdayaan Penyandang Disabilitas dalam Membuat Produk Soft Aksesoris melalui Pemanfaatan Kain Perca” 4-5 September 2024 Jeng Oetari (NIP: 23980019) Morinta Rosandini (NIP: 14860089) Liandra Khansa Utami Putri (NIP: 22950031) Tiara Larissa (NIP: 23950014) Citra Puspitasari (NIP: 14850088)
Pelatihan Keterampilan Teknik Shibori dengan Masyarakat Sasar Penyandang Disabilitas Down Syndrome dalam Komunitas PIK POTADS Jabar bersama Kamaku Brand
Program Studi Kriya Tekstil dan Mode, berkolaborasi dengan brand Kamaku, melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Pelatihan Keterampilan Teknik Shibori dengan Masyarakat Sasar Penyandang Disabilitas Down Syndrome dalam Komunitas PIK POTADS Jabar.” Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan anggota Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) Jawa Barat melalui pelatihan seni tekstil, khususnya teknik shibori, yakni metode pewarnaan kain tradisional Jepang. Teknik ini dipilih karena mudah dipelajari dan mampu mendorong kreativitas sekaligus mengasah kemampuan motorik halus peserta. Selain itu, program ini dirancang sebagai wadah untuk memperkenalkan potensi ekonomi kreatif yang dapat dimanfaatkan oleh komunitas sasaran, sehingga menghasilkan dampak jangka panjang yang positif. Pelatihan ini dihadiri oleh 18 peserta penyandang Down Syndrome yang didampingi oleh orang tua mereka. Setiap peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung, didukung oleh kehadiran para pendamping yang aktif berinteraksi. Suasana pelatihan terasa hangat dan inklusif, menciptakan lingkungan yang mendukung bagi peserta untuk belajar dan mengekspresikan kreativitas mereka. Dengan bimbingan fasilitator, peserta diajak mengenal dasar-dasar teknik shibori, mulai dari melipat kain, mengikatnya dengan tali, hingga proses pewarnaan. Hasil kreasi para peserta yang unik dan penuh warna menjadi bukti keberhasilan kegiatan ini dalam mengembangkan potensi kreatif mereka. Selain aspek keterampilan, kegiatan ini juga memberikan dampak sosial yang signifikan. Para peserta dan orang tua mereka mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, dan mempererat hubungan dalam komunitas. Dengan pendekatan yang inklusif dan kolaboratif, pelatihan ini tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri penyandang Down Syndrome tetapi juga memperkuat dukungan keluarga sebagai bagian dari komunitas yang saling mendukung. Diharapkan, pelatihan ini dapat menjadi langkah awal untuk membuka lebih banyak peluang pemberdayaan bagi komunitas POTADS Jawa Barat di masa depan.
PENGABDIAN MASYARAKAT SKEMA TEKNOLOGI TEPAT GUNA DI KAMPOENG RADJOET, BINONG JATI, KOTA BANDUNG
Citra Puspitasari, Liandra K.U. Putri, Shella W. Putri, Delta F. Nurman Binong Jati merupakan salah satu wilayah di kota Bandung yang dikenal dengan Sentra Rajut nya. Terhitung sejak tahun 1970-an hingga saat ini terdapat sekitar 400 pengrajin yang berprofesi di bidang rajut. Pada tahun 2014, dilakukan rebranding terhadap sentra rajut Binong Jati menjadi Kampoeng Radjoet. Sebagai bagian dari Kampung Wisata Binong yang merupakan salah satu Kampung Wisata di kota Bandung, potensi yang dimiliki Kampoeng Radjoet antara lain ialah wisata belanja dan edukasi. Pengunjung yang datang akan dikenalkan bagaimana proses dan cara pembuatan pakaian rajut. Potensi wisata tersebut sejalan dengan misi Kampoeng Radjoet yang antara lain ialah menjaga eksistensi budaya merajut (1), mendirikan knit school (2), membuat wisata kampung rajut (3), membuat clustering untuk memberdayakan dan mengembangkan sentra rajut Binong Jati (4), serta membuat museum rajut (5). Sejak tahun 2015 hingga saat ini, Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF), Fakultas Industri Kreatif (FIK), Universitas Telkom bermitra dengan Kampoeng Radjoet dalam berbagai kegiatan akademik. Adanya kebutuhan dari Kampoeng Radjoet untuk pemenuhan properti pendukung wisata melalui Mini Museum – Display – Photo Booth yang memunculkan ciri khas Kampoeng Radjoet, menjadi momentum yang tepat untuk kembali bekerja sama dalam bentuk Pengabdian Masyarakat – Teknologi Tepat Guna (gambar 1) Perancangan instalasi modular pada kegiatan abdimas ini menggunakan pendekatan design thinking dan penerapan design workshop. Design workshop sendiri merupakan suatu bentuk desain partisipatif yang menggabungkan metode desain bersama yang kreatif ke dalam sesi terorganisir bagi peserta untuk bekerja sama dengan anggota tim desain. Pelaksanaan workshop tersebut melibatkan 18 mahasiswa prodi KTF sebagai volunteer (gambar 2). Tiap volunteer bergabung ke satu divisi/kelompok tertentu berdasarkan medium (gambar 3) yang akan direspon di Kampoeng Radjoet. Terdapat 5 medium yang menjadi rujukan perancangan instalasi modular, yaitu: kaca berdiri (1), gantungan berdiri (2), dinding (3), gawangan (4), serta rak (5). Kegiatan perancangan instalasi modular meliputi beberapa tahap, yaitu: Penentuan inspirasi (1), Pembuatan sketsa desain (2), Pemilihan material – sisa produksi rajut (3), Penentuan teknik tekstil (4), Pengerjaan Eksplorasi Modular (5). Pelaksanaan workshop (gambar 4) dimulai terhitung sejak Oktober 2024 sampai dengan pertengahan Desember 2024 bertempat di Bale Rajut dan di Laboratorium Tenun (lab. Tenun) FIK. Setelah menghasilkan lembaran 3D modular mixed teknik tekstil berbahan sisa produksi rajut, aktivitas berikutnya adalah styling (tata gaya) pada medium (cermin, gantungan, dinding, gawangan, rak) yang telah ditentukan di tahap awal saat kunjungan ke Kampoeng Radjoet (gambar 5). Besar harapan bahwa instalasi modular yang dibuat oleh Tim Abdimas ini dapat bermanfaat dan berdampak bagi Kampoeng Radjoet. Capaian dari kegiatan ini masih terbatas sampai dengan tahap prototype dan tidak menutup kemungkinan berikutnya ialah melakukan test pengujian terhadap Instalasi Modular ini. Pengujian dan umpan balik atas prototype berpotensi dilakukan pada kegiatan pameran yang melibatkan Kampoeng Radjoet dan atau kunjungan dari pihak luar. https://www.youtube.com/watch?v=mg64Vs7oIQI PIC Divisi dan Volunteer: 1. Divisi Cermin PIC: Rana Azhaar Khairun Nisa (1605213023) Tim Volunteer: Thirza Shada (1605223104) 2. Divisi Gantungan PIC: Laili Novita Andini (1605210113) Tim Volunteer: Wiri Anisah (1605210110) 3. Divisi Dinding PIC: Elisabeth Sekar Kinanti (1605210120) Tim Volunteer: Naradipa Pinasthika Antariksa (1605213103), Nadhifa Chandra Nuraraesy (1605213079), Kheisha Alea Shakila (1605223038), Melodya Arabel Librado (106052300053) 4. Divisi Gawangan PIC: Annisa Shafira Rasie (1605210069) Tim Volunteer: Diva Tiara Aulia (1605213116), Marcell Adi Pangestu Matatula (1605220113), Rafa Zahra Syakirah (1605220081), Nabila Safitri (1605223045) 5. Divisi Rak PIC: Nadya Stevi Wulandari (1605210101) Tim Volunteer: Asyfa Virlyani (1605210107), Nayla Alifah Rahmah (1605223075), Yuliana Adinda Zubaidah (1605223088)
Pengembangan Kemampuan Literasi Dini dan Pembuatan Prakarya Kriya Sederhana Menggunakan Metode Learning by Doing bekerjasama dengan Perpustakaan Anak di Bandung
Pengembangan Kemampuan Literasi Dini dan Pembuatan Prakarya Kriya Sederhana Menggunakan Metode Learning by Doing bekerjasama dengan Perpustakaan Anak di Bandung
Pelatihan Batik Pewarna Alam dengan Mitra Griya Harapan Difable Jabar.
Pengabdian masyarakat ini mengangkat tema pelatihan batik dengan pewarna alam yang diselenggarakan bersama mitra Griya Harapan Difable. Pelatihan ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) nomor 12 tentang Produksi dan Konsumsi yang Bertanggung Jawab, dengan fokus utama pada pengurangan penggunaan bahan kimia berbahaya yang dapat merusak lingkungan. Selain itu, pelatihan ini juga sejalan dengan SDG nomor 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dengan memberikan keterampilan kepada difabel untuk terlibat dalam industri kreatif yang ramah lingkungan dan memiliki potensi ekonomi yang kuat. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan batik dengan pewarna alam kepada difabel yang tergabung dalam Pusat Layanan Sosial Griya Harapan Difable, di bawah bimbingan Dinas Sosial Jawa Barat. Fokus utama dari program ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan tambahan dalam teknik batik, khususnya dalam penggunaan pewarna alam sebagai bahan utama, dengan tujuan menciptakan diferensiasi nilai jual tambahan dari produk batik yang sebelumnya dihasilkan. Pelatihan pewarna alam ini dilakukan dengan mengutamakan penggunaan pewarna alami seperti tingi, tegeran, dan jelawe, yang dikenal ramah lingkungan dan aman digunakan. Dalam proses pewarnaan, digunakan zat mordan seperti tanjung, tawas, dan kapur. Zat-zat ini berfungsi untuk meningkatkan daya tahan dan intensitas warna pada kain, memastikan hasil pewarnaan yang lebih cerah dan tahan lama. Adapun material yang digunakan dalam pelatihan ini adalah kain katun dan rayon. Kain katun dipilih karena serat alaminya yang mampu menyerap pewarna dengan baik, sementara kain rayon dipilih karena teksturnya yang halus dan kemampuannya menyerap warna secara merata. Kombinasi pewarna alami dan zat mordan ini diharapkan dapat menghasilkan produk batik yang tidak hanya estetis, tetapi juga memiliki nilai tambah dari sisi lingkungan dan ekonomi. Pelatihan pewarna alam ini dilaksanakan dalam tiga pertemuan yang komprehensif. Pertemuan pertama melibatkan perkenalan, demonstrasi, dan praktikum dengan pendampingan. Pada pertemuan ini, terdapat empat agenda utama yaitu: pertama, sesi perkenalan antara peserta dan instruktur; kedua, pemaparan materi serta distribusi modul praktikum yang berisi panduan teknik pewarnaan alami; ketiga, demonstrasi langsung mengenai praktik pewarnaan alam yang dilakukan oleh instruktur; dan keempat, sesi praktikum pewarnaan alam di mana peserta mencoba sendiri dengan pendampingan instruktur. Pertemuan kedua berfokus pada praktikum mandiri, di mana peserta membuat batik pewarna alam secara mandiri berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya. Pertemuan ketiga ditujukan untuk presentasi dan diskusi hasil akhir batik pewarna alam yang telah dibuat oleh peserta. Dalam sesi ini, peserta mempresentasikan karya mereka, mendiskusikan tantangan yang dihadapi, serta menerima umpan balik dan saran untuk perbaikan dari instruktur dan sesama peserta. Pelatihan yang terstruktur ini bertujuan untuk memastikan peserta tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu menerapkan keterampilan pewarnaan alam secara praktis. Selama pelatihan pewarna alam ini, respon peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dan partisipasi yang aktif, meskipun mereka memiliki keterbatasan fisik seperti tunarungu dan tunadaksa. Peserta secara konsisten menunjukkan keinginan yang kuat untuk belajar, terbukti dari banyaknya pertanyaan yang mereka ajukan selama sesi perkenalan, demonstrasi, dan praktikum. Selain itu, mereka dengan gigih mencoba setiap tahapan proses pewarnaan alam, menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi semangat dan kemampuan mereka untuk mengikuti pelatihan ini. Pendampingan yang diberikan oleh instruktur dan kehadiran translator juga membantu meningkatkan pemahaman dan keterlibatan peserta. Semangat dan dedikasi yang ditunjukkan oleh para peserta ini sangat menginspirasi dan menegaskan pentingnya inklusivitas dalam setiap program pelatihan. Selama pelatihan pewarna alam ini, terdapat beberapa kekurangan yang perlu dicatat, terutama dalam pemberian modul materi. Modul yang disediakan belum sepenuhnya dipahami oleh peserta karena penggunaan bahasa yang belum disesuaikan dengan pemilihan kata yang sederhana dan mudah dimengerti. Meskipun demikian, respon dari peserta dan pimpinan sangat positif. Peserta menunjukkan antusiasme dan keterlibatan yang tinggi dalam setiap sesi, sementara pimpinan mengapresiasi inisiatif dan dampak positif dari pelatihan ini. Masukan ini akan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelatihan di masa mendatang, dengan fokus pada penyediaan materi yang lebih mudah dipahami, sehingga dapat lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan dan pengetahuan peserta. https://youtu.be/4bpWuG_eZso?si=lyWRPhSmFyB6mVWa Terimakasih kepada: Ibu Andnia Rahayu, HS, NMaH, selaku Kepala UPTD Pusyansos Griya Harapan Difable Tim Dosen Pengabdian Masyarakat; Ketua: Ahda Yunia Sekar Fardhani (NIP: 23930024) Anggota : Fajar Ciptandi (Nip: 14860096) Gina Shobiro Takao (Nip: 22940037) Aldi Hendrawan (Nip: 14850044) Faradillah Nursari (NIP: 15880043) Tim Mahasiswa Pengabdian Masyarakat: Anna Tantia Maharani (Nim: 1605213029) Andi Nurul Mukhlishah (Nim: 1605210129) Shofia Ahla Habieba (Nim: 1605213090) Aulia Putri Triani (Nim: 1605194053)
Pengembangan Kemampuan Literasi dan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui WorkshopMultisensory Storytelling dan Pembuatan Prakraya Kriya Sederhana Menggunakan Metode Play-based Learning di Perpustakaan Anak
Salah satu aspek penting pada masa golden age adalah berkembangnya kemampuan literasi. Kemampuan literasi dapat melibatkan empat aspek sekaligus yaitu aspek psikologis, sensori, perseptual, dan keterampilan. Salah satu proses pemahaman literasi adalah melalui metode membaca yang merupakan interaksi bersifat komunikatif antara pembaca dan penulis melalui karya tulis yang berisi gagasan, perasaan, dan pengalaman. Literasi berperan penting sebagai penopang kemajuan penghidupan dan kebudayaan umat manusia. Selain berkembangnya kemampuan literasi, kemampuan motorik halus pun sedang berkembang pesat pada masa usia ini. Kemampuan motorik halus merupakan pendukung utama bagi kesiapan perkembangan tingkat literasi yang lebih lanjut yaitu kegiatan menulis. Pentingnya perkembangan kedua kemampuan tersebut sangat disadari oleh TK pra-sejahtera Islam Cendekia Gemilang dalam mengembangkan metode belajar bagi siswa-siswinya. TK pra-sejahtera Islam Cendekia Gemilang aktif mengadakan berbagai macam kegiatan untuk meningkatkan kemampuan literasi dan motorik halus anak. Tim pengabdian masyarakat Telkom University melakukan kegiatan workshop multisensory storytelling untuk fokus dalam melatih kemampuan literasi sekaligus motorik halus anak. Multisensory storytelling biasanya akan menggunakan rangsangan sensorik (alat peraga cerita) untuk melibatkan indera dan mendukung kata-kata yang diucapkan, serta membangun kepercayaan dan memperkaya pengalaman setiap individu. Multisensory storytelling akan melibatkan kemampuan dalam partisipasi membaca bersama dengan menambahkan permainan stimulus kemampuan motorik halus melalui metode play-based learning (bermain sambil belajar). Permainan untuk menstimulus kemmapuan motorik halus ini akan diarahkan untuk membuat prakarya dengan tema yang baru, sebagai variasi dari kegiatan serupa yang telah dilakukan di sekolah selama ini. Prakarya akan menerapkan teknik-teknik kriya sederhana yang banyak menggunakan keterampilan tangan, sehingga diharapkan dapat menstimulus kemampuan motorik halus anak. Selain fokus pada pengembangan variasi kegiatan, untuk meningkatkan suasana belajar, maka kegiatan akan dilaksanakan di luar sekolah yaitu tepatnya di Pustakalana. Pustakalana adalah perpustakaan anak di kota Bandung yang aktif meggagas beragam program untuk anak. Hasil dari workshop ini adalah berupa pengalaman serta pembelajaran bagi siswa-siswi mengenai kegiatan di perpustakaan, serta melatih kemampuan motorik halus dengan kegiatan games dan berdongeng sambil membuat kerajinan sederhana berupa anyaman yang melibatkan cerita dongen yang dibawakan oleh tim Pustakalana. Harapannya, melalui pendampingan workshop multisensory storytelling ini diharapkan para siswa-siswi dapat memiliki pengalaman yang menarik dalam mengasah kemampuan literasi dan kemampuan motorik halus, serta para staff dan guru pengajar pun akan mendapat insight baru untuk membantu pengembangan kegiatan belajar mengajar di TK pra-sejahtera Islam Cendekia Gemilang. Terima Kasih Kepada : TK Insan Cendekian Gemilang dan Yayasan Berkah Madani Gemilang Aulia Rachmatya Astri Afrilia Pustakalana Children’s Library Citrarini Ceria Claudine Patricia Anggita Rizqi T. Vania Amanda P Tim Pelaksana : Ketua: Widia Nur Utami B. (NIP: 14880077) Anggota: Rima Febriani (NIP: 20880014) & Tiara Larissa (NIP: 23950014) Anggota Mahasiswa: Reina Ramadhani (NIM : 1605201068) Juniar Angelin B. R. (NIM : 1605200025) Agnes Herlyn Eka Putri (NIM : 1605202021)
Workshop on Reworking Tote Bag Products with Patchwork Technique Using Scrap Fabric Pieces
Musat Space merupakan nama kedai kopi yang mengklaim sustainable coffe shop dan communal space di Bandung menjadi ciri khas tersendiri apabila interior disana merupakan hasil upcyling. Sudah berdiri sejak tahun 2018, Musat memiliki bangunan yang minimalis dan nyaman ini terletak di Jalan Cilaki No.45, Cihapit, Bandung. Tidak hanya menyediakan kopi, di dalam Musat Space terdapat roasted bar, cap roti buaya, dan tous beauty bar. Musat mulai mempekerjakan pegawai yang seidentifikasi dengan nilai dan budaya perusahaannya sehingga menciptakan pelayanan yang ramah dan kebersihannya terjaga. Musat Space memiliki beberapa program dengan tujuan menyelamatkan bumi. Di tahun yang sama dengan terbentuk nya Musat, mereka mulai memproduksi bamboo straw dan produk sustainable lainnya. Selain itu juga, Musat menggunakan plastik daur ulang dalam pembuatan kursi dan menggunakannya sebagai interior di dalam Musat Space. Sampai saat ini Musat memiliki banyak kesempatan untuk berkolaborasi dengan organisasi dan brand maupun para pelaku seni lainnya, dimana pada program ini mereka membuat kegiatan Sharing Knowledge yang mengusung tema sustainable di bidang apapun. https://youtu.be/uBtSSrKBdv0?si=DPks7ocsygQT0RiE Dalam kesempatan ini penulis ditawarkan untuk dapat mengisi kegiatan sharing knowledge dengan memberikan pengetahuan melalui workshop rework menggunakan Teknik Patchwork untuk para pengunjung Musat Space yang dating. Tempat ini sejauh pengamatan tim banyak didatangi tidak hanya remaja namun juga keluarga. Dari pihak Musat Space menginginkan untuk dapat bekerjasama melakukan pengolahan produk pakai tekstil yang unik dan jarang dilakukan. Karena Musat Space sendiri mengklaim bahwa mereka adalah sustainable coffe shop dan communal space di Bandung sehingga sangat mendukung bila adanya program workshop tema rework yang dilakukan di Musat Space. Sehingga kegiatan yang dibuat yaitu Workshop Rework Produk Totebag dengan Teknik Patchwork Menggunakan Kain Perca. Kain Perca sisa produksi ini digunakan sebagai bahan alternatif patchwork yang mudah didapatkan salah satunya dari bahan sisa produksi atau kain bekas pakaian. Kain perca tersebut dilihat masih dapat dioptimalkan sebagai media untuk membuat produk baru. Dalam kegiatan ini digunakan pendekatan teknik patchwork yaitu teknik menggabungkan kain perca yang memiliki motif dan warna yang berbeda menjadi bentuk baru. Namun kali ini teknik tersebut akan dipadukan dengan teknik sulam dan diaplikasikan secara baru dengan material produk pakai tekstil seperti tas totebag. Prinsip patchwork tetap menggunakan kain perca sisa produksi ataupun pakaian bekas. Dengan mengkombinasikan teknik patchwork dan sulam maka akan tercipta sebuah komposisi indah, abstrak dan unik. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini mendukung program SDGs yaitu Industri, Inovasi dan Infrastruktur. Kegiatan ini mendukung Sustainable Deevelopment Goals yang sedang dicanangkan oleh pemerintah dalam aspek Industri, Inovasi dan Infrastruktur. Dimana penulis melakukan pengabdian masyarakat berupa sharing knowledge melalui workshop Rework Produk Totebag dengan Teknik Patchwork Menggunakan Kain Perca di sebuah kedai kopi yang secara tidak langsung membangun peran serta (engagement) para pengunjung kedai kopi untuk dapat mengoptimalkan sampah menjadi sebuah inovasi. ___ Tim Dosen: Aldi Hendrawan, S.Ds., M.Ds. (NIP : 14850044) Ahda Yunia Sekar F, S.Sn., M.Sn (NIP : 20930017) Gina Shobira Takao, S.Sn., M.Ds. (NIP : 22940037) ___
PENGEMBANGAN PEMASARAN STARTUP PENDIDIKAN BINAR CALISTUNG MELALUI PELATIHAN BISNIS MODEL CANVAS DAN PERENCANAAN PEMBUATAN KONTEN KREATIF
Pada tahun 2022, Tim Abdimas Kolaborasi Internal yang terdiri dari dari Fakultas Industri Kreatif dan Fakultas Rekayasa Industri melakukan kegiatan penyempurnaan rancangan craft kit serta menganalisa peluang pengembangan pemasaran digital untuk StartUp pendidikan Binar Calistung dan sudah memiliki dampak yang cukup signifikan dalam proses berjalannya bisnis StartUp pendidikan Binar Calistung saat itu. Melalui hal tersebut StartUp pendidikan Binar Calistung membutuhkan dukungan akademisi dalam rangka mencapai roadmap bisnisnya tetap berjalan. Secara umum solusi dan tahapan kegiatan pengabdian kepada masyarakat kali ini terbagi ke dalam tiga tahap pelatihan yang berfokus pada pengembangan pemasaran melalui pemetaan bisnis model canvas dan branding, yaitu: (1) Tahap 1: Analisa kebutuhan pengembangan (2) Tahap 2: Pelatihan Bisnis Model Canvas dan Pendampingan Penyusunan Konten Kreatif (3) Tahap 3 : Melakukan uji coba dan evaluasi. Luaran yang diharapkan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah adanya optimalisasi pemasaran digital dan branding melalui perencanaan bisnis yang lebih baik. Tahap 1: Analisa Kebutuhan Pengembangan Sebelumnya tim pengabdian kepada masyarakat sudah melakukan analisa awal terkait opsi kebutuhan berdasarkan hasil evaluasi dari program abdimas tahun 2022 lalu. Berdasarkan evaluasi tersebut, mitra dinilai sudah cukup baik dalam menyajikan variasi konten media sosial. Konten pada media sosial sudah menampilkan konten dengan porsi yang baik sesuai branding StartUp pendidikan Binar Calistung yaitu sebagai StartUp di bidang pendidikan. Konten dalam media sosial pun sudah diusahakan untuk ditampilkan dalam desain layout yang seragam sehingga memperkuat branding StartUp pendidikan Binar Calistung. Dibandingkan dengan penyajian konten pada tahun 2022, konten yang ditampilkan pada tahun 2023 sudah jauh lebih baik. Hanya saja penyusuan konten yang ditampilkan pada media sosial tersebut belum memiliki pola yang jelas dan monoton atau kurang menarik, sehingga engagement dengan pelanggan yang diharapkan belum tercapai secara optimal. Platform media sosial yang digunakan difokuskan pada platform Instagram sebagai platform media sosial utama dari StartUp pendidikan Binar Calistung. Tahap 2: Pelatihan Bisnis Model Canvas dan Pendampingan Penyusunan Konten Kreatif Tahap selanjutnya adalah penyampaian materi pelatihan mengenai Business Model Canvas dan materi rencana pemasaran dengan membuat content planning pada media sosial mitra. Business Model Canvas terdiri dari Sembilan building blocks yang diolah menjadi sebuah format yang berhubungan satu sama lain. Sebagian ide dimulai dengan masalah mitra yang teridentifikasi dari hasil analisa sebelumnya, kemudian mencari solusi dari permasalahan tersebut dengan memetakan kembali bisnis model yang dijalankan oleh StartUp pendidikan Binar Calistung. Pemaparan materi Business Model Canvas mengkategorikan 4 bagian pokok utama (Value Proposition, Konsumen, Infrastruktur, Profit Driver). Tahap 3: Uji Coba dan Evaluasi Tahapan terakhir adalah uji coba dan evaluasi content planning pada media sosial StartUp pendidikan Binar Calistung secara langsung selama 1 bulan untuk kemudian dievaluasi lebih lanjut sebagai acuan continues improvement bentuk pemasaran selanjutnya. Berdasarkan data insight dari platform Instagram StartUp Binar Calistung, dapat dilihat bahwa adanya peningkatan dalam jumlah engagement rate sebanyak 33.1%, menjangkau akun sebanyak 9.589 atau mengalami kenaikan sebanyak 34.7% dari sebelumnya dengan jumlah total pengikut saat ini 34.4 ribu followers. Hal ini dapat dikatakan bahwa praktek pemasaran yang dilakukan oleh StartUp pendidikan Binar Calistung sudah membuahkan hasil ataupun kemajuan. Terima kasih kepada: Binar Calistung ( Budiman & Nani Nurhasanah ) – Tim Pelaksana: Ketua: Rima Febriani S.I.Kom, M.A.B (NIP : 20880014) Anggota: Widia Nur Utami B. S.Ds., M.Ds (NIP : 14880077) Dr. Fajar Ciptandi, S.Ds., M.Ds (NIP : 14860096 ) Anggota Mahasiswa: Agnes Herlyn Eka Putri (NIM : 1605202021) ——
Pengembangan Keterampilan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Workshop Play-Based Learning Dan Perancangan Produk Kriya Kreatif Untuk Mendukung Rencana Pengembangan Unit Usaha Sekolah
Pendidikan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap manusia. Pendidikan anak usia dini yang dimulai dari usia 0-6 tahun, merupakan fase Pendidikan yang paling penting sebagai dasar untuk pendikan-pendikan selanjutnya. Salah satu aspek penting dalam Pendidikan usia dini adalah berkembangnya kemampuan motorik halus secara optimal. Kemampuan motorik halus adalah perkembangan gerak yang meliputi otot kecil dengan koordinasi mata-tangan, yang umumnya terjadi lebih lamban dari perkembangan motorik kasar. Pentingnya melatih kemampuan motorik halus sangat disadari oleh TK Islam Cendekia Gemilang. Oleh karena itu, TK Islam Cendekia Gemilang aktif menyiapkan beragam kegiatan untuk melatih kemampuan motorik halus agar berkembang optimal, salah satunya dengan kegiatan menggambar. Namun sayangnya, kegiatan menggambar yang menjadi favorit para siswa/I lambat laun menjadi kegiatan yang monoton. Para staff guru pengajar membutuhkan varian kegiatan baru untuk mendorong semangat para siswa/I dalam menggambar. Melalui pendampingan ini, tim pengabdian masyarakat Telkom University akan melakukan pendampingan kegiatan dengan menerapkan metode play-based leraning atau bermain sambil belajar, yang fokus pada hakekatnya seorang anak yang senang untuk bermain. Kegiatan ini akan menerapkan lima area permainan yaitu Creative play, Dramatic play, Exploratory play, Manipulative play, dan Sensory play sehingga kegiatan menggambar dapat menjadi lebih menarik dan memberikan variasi kegiatan untuk stimulus kemampuan motorik halus yang baru. Hasil dari pendampingan ini berupa gambar yang kemudian akan diaplikasikan melalui teknik tekstil menggunakan kertas transfer (transfer paper) di atas permukaan produk. Produk yang akan dikembangkan adalah kaos seragam perpisahan siswa/i. Dengan mengaplikasikan gambar masing-masing pada produk yang akan digunakan untuk acara istimewa, diharapkan para siswa/I memiliki rasa kepemilikan yang tinggi sehingga dapat menjaga produknya dengan baik. Gambar anak yang khas dapat menjadi pemanis produk dan memberikan nilai estetika pada produk tersebut. Selain itu, kemudahan dan keterampilan mengaplikasikan kertas transfer (transfer paper) diharapkan dapat dikuasi oleh para staff guru pengajar guna membantu rencana pengembangan unit usaha sekolah. Para staff guru pengajar belum memiliki ide terkait pengembangan produk kreatif untuk dipasarkan pada unit usaha sekolah. Harapannya, melalui pendampingan ini, para staff guru pengajar dapat melanjutkan pengembangan terkait teknik dan produk kreatif tersebut. Terima Kasih Kepada : TK Insan Cendekian Gemilang dan Yayasan Berkah Madani Gemilang Aulia Rachmatya Astri Afrilia Tim Pelaksana : Ketua: Widia Nur Utami B. (NIP : 14880077) Anggota: Rima Febriani (NIP : 20880014) & Faradillah Nursari (NIP : 158800431) Anggota Mahasiswa: Reina Ramadhani (NIM : 1605201068) Juniar Angelin B. R. (NIM : 1605200025) Agnes Herlyn Eka Putri (NIM : 1605202021)
WORKSHOP KREASI KAIN (TIE DYE) BERSAMA IBU-IBU PKK DI DESA CIMAREME PADALARANG
Kampung Cempaka, Desa Cimareme merupakan sebuah lokasi yang berada di Padalarang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Terpadat kelompok ibu-ibu PKK yang aktif dan melakukan kegiatan pelatihan yang dikoordinir langsung oleh ketua PKK kampung Cempaka. Kelompok ibu-ibu PKK memiliki semangat dalam mempelajari hal-hal baru, hingga saat ini kegiatan yang cukup sering dilakukan adalah fokus pada masak memasak, dan juga mengolah limbah rumah tangga. Ketua PKK desa Cempaka, Dini Lestari, menginisiasi untuk adanya kegiatan yang bermacam-macam sebagai bekal pengetahuan untuk para ibu-ibu PKK agar bisa melakukan kreasi hingga menjadi hobi yang dapat menghasilkan. Melalui workshop ini, ibu-ibu PKK akan dibekali pengetahuan menghias kain sederhana yang dapat dilakukan di rumah masing-masing. Para ibu-ibu PKK diajarkan untuk menghias kain dengan teknik Tie Dye yang dokus pada kreasi ikatan, teknik ini menarik dan cukup sederhana untuk dilakukan di rumah dan tidak terlalu membutuhkan alat dan bahan yang sulit, dengan harapan sebagai pengetahuan awal bagi para ibu-ibu PKK dalam mencoba kreasi kain untuk pertama kalinya. Pemilhan teknik kreasi kain tie dye juga cukup mudah untuk dicoba kembali oleh ibu-ibu di rumah, bahan-bahannya pun dapat dibeli di toko terdekat, sehingga ibu-ibu pkk dapat melanjutkan eksplorasi teknik kreasi kain tie dye sebagai hobi, ataupun dapat dijadikan ide usaha. Terima Kasih Kepada : Ketua Ibu-Ibu PKK Desa Cimareme: Astri Afrilia — Tim Pelaksana : Tiara Larissa, S.Ds., M.Ds. (NIP: 23950014) Anggota Mahasiswa: Juniar Angelin B. R. (NIM : 1605200025) —